BLACK OUT TOTAL, BLACK OUT SEBAGIAN DAN BLACK START

 

Apa sih black out itu? Kadang orang bertanya – tanya dalam hati….biasanya oirang yang pernah denger kata black out adalah yang pernah membaca berita tentang mati listrik PLN. Yap…black out di negara kita identik dengan mati lampu, dan betul juga penafsiran itu karena ketika terjadi black out lampu dirumah – rumah pasti mati. he…he…he. Akan tetapi menurut pengertian saya yang dulu pernah tanya – tanya ke PLN, black out adalah hilangnya sumber daya listrik, ato bisa juga karena lepasnya koneksi generator atau gardu induk dari sistem jaringan. Bisa black out total seluruh sistem atao sebagian aja…sebenarnya saya juga bingung menjelaskannya antara black out sebagian dan black out seluruh system…tapi coba ane kasih contoh aja….kalo black out total itu contohnya begini …..system jawa bali misalnya, seluruh pembangkit listrik yang ada di sistem jaringan jawa bali lepas koneksi dari system jaringan maupun interkoneksi yang artinya tidak ada setrum di jaringan tersebut…he…he..trus untuk menormalkan kembali di butuhkanlah suatu sistem pembangkit sebagai black start yang mensupply ke pembangkit lain dalam sistem tersebut untuk melakukan persiapan start….perlu dicatat ya, kenapa kok ada namanya sistem pembangkit black start? Kita tahu, suatu PLTU misalnya, ga bisa sekonyong – konyong langsung operasi setelah terjadi black out, PLTU membutuhkan alat bantu untuk memompa air, buka valve , menggerakkan conveyor batubara dan lain sebagainya yang notabene membutuhkan listrik…jadi sebelum beroperasi PLTU membutuhkan listrik dari pembangkit lain. Biasanya sebagai black start adalah generator yang digerakkan mesin diesel yang tidak membutuhkan listrik terlebih dahulu untuk mengoperasikan alat bantu untuk beroperasi ( ada juga lo mesin diesel yang membutuhkan alat bantu sebelum bisa dioperasikan )…jadi contohnya disini kita operasikan mesin diesel yang tidak membutuhkan alat bantu untuk start ( cukup accu atao angin untuk memutar start engine ), kemudian setelah genset beroperasi dan menghasilkan listrik baru mensupply ke PLTU untuk mengoperasikan alat bantu dan persiapan start….selanjutnya untuk penormalan sistem tersebut secara teknisnya operator nya masing – masing yang lebih paham SOP nya. Lha terus kalo yang black out sebagian iku opo kang? Ini maksudnya black out cuma sebagian aja, ga semunya system mati…mungkin misalnya cuma black out di sistem gardu cawang ( yang beberapa bulan kemarin rame beritanya di TV gardu cawang meledak)…..secara system gardu cawang kan masuk ke system jawa bali, trus ketika gardu cawang meledak terjadi black out akan tetapi tidak mempengaruhi system jawa bali, yang black out adalah daerah yang di supply dari system gardu cawang tersebut. Sehingga ga perlu lagi ada pembangkit black start yang beroperasi….kalo gardu cawang tersebut sudah normal dan aman bisa langsung masuk ke system lagi…begitu kira kira pengertian nya black out yang ane simpulkan dari apa yang aku denger….ya kalo ada yang kurang pas, dan mungkin ada orang PLN yang lebih expert mampir di blog ane kan bisa ngasih saran ato koreksi…insya Allah ane langsung update….silakan tuliskan di kolom komentar aja….

ANALISA ASAL – ASALAN MCB DAN FUSE ( SEKRING )

 

Suatu ketika ane berfikir tentang apa sih perbedaan fuse dan MCB? So pasti emang berbeda…dari bentuknya aja berbeda kok..he..he..itu jawaban ane pada saat itu. Ane tanya kesana – kemari ternyata jawabannya ga ada yang memuaskan…rata – rata menjawab kalo sekring putus / trip ga bisa dipakai lagi, kalo MCB masih bisa di ON kan lagi….menurut ane itu ga memuaskan dan kurang ilmiah….pokoknya sampe puyeng aku mikirin itu….sampai akhirnya ane nonton berita di TV menayangkan tentang kebakaran yang katanya diakibatkan oleh short circuit listrik. Ane berfikir, kalo short circuit pastinya sekring putus ataupun MCB pasti bakalan trip kan? Dari analisa bodoh ane yang asal – asalan ini dapat ane tarik kesimpulan begini :

  1. Ketika PLN pasang baru kWh meter yang dipasang adalah MCB sebagai pembatas arus dan ga ada dipasang sekring.
  2. Pemilik rumah biasanya / kebanyakan thanya melanjutkan / menyambung instalasinya tanpa menambah sekring setelah MCB di kWh meter
  3. MCB bekerja berdasarkan pemuaian bi metal ( MCB yang terpasang di rumah – rumah )
  4. Kebanyakan konsumen listrik di Indonesia tidak pernah mempedulikan / memperhatikan / merawat pembatas arus yang terpasang karena ketidak tahuan
  5. PLN sendiri sebagai pemasang MCB di rumah – rumah bersama meternya juga ga pernah mengganti MCB walo umurnya udah puluhan tahun. Kalo ada laporan rusak baru diganti.

Itu 5 point yang ane temukan yang mungkin bisa kita analisa bersama

well….Begini ilustrasinya

  1. Ketika PLN pasang baru kWh meter yang dipasang adalah MCB sebagai pembatas arus dan ga ada dipasang sekring :

    PLN hanya memasang MCB aja kan? Ga disertai sekring kan? Jawabannya adalah betul ….Ok lanjut ke point 2 ya…

  1. Pemilik rumah biasanya / kebanyakan hanya melanjutkan / menyambung instalasinya tanpa menambah sekring setelah MCB di kWh meter :

jawabannya betul juga kan?

  1. MCB bekerja berdasarkan pemuaian bi metal ( MCB yang terpasang di rumah – rumah )

    Jawabannya betul juga kan? Well…dari poin 1,2 dan 3 ane bisa tarik sebuah analisa, MCB mengandalkan prinsip pemuaian bi metal yang mengandalkan proses mekanik sehingga menarik tuas MCB turun ketika terjadi short circuit maupun overload…. apabila terjadi short circuit atao overload trus bi metal memuai tetapi tuas mekanis tidak tertarik turun apa yang terjadi?ya lolos dong proteksinya…he..he..ane sebagai tukang service genset yang ndapuk tukang proteksi pasti berfikir yang terburuk lo…apabila gagal bekerja proteksi MCB tersebut ( walo kemungkinan cacat produksi ato rusak proses distribusi tetap kita perhitungkan ). brarti ada kemungkinan cacat produksi ato pas pendistribusian jatuh sehingga bi metal dan tuasnya meleset kan kita ga tau to?he..he..disinilah perlunya kita tambah sekring setelah MCB utama, untuk antisipasi

  2. Kebanyakan konsumen listrik di Indonesia tidak pernah mempedulikan / memperhatikan / merawat pembatas arus yang terpasang karena ketidak tahuan

    jawabannya betul lagi kan ? Ya itulah orang Indonesia men…kalo perawatannya setelah terpasang jarang yang peduli…tapi kalo beli bisa…pokoke masih bisa nyala listrik di rumah udah ga peduli apa – apa lagi. Padahal ada kemungkinan MCB udah rusak…berapa sering MCB trip, berapa tahun umur MCB , bagaimana ambient temperature MCB tersebut, bagaimana kondisi fisik MCB tersebut akan sangat mempengaruhi kemampuan MCB sebagai proteksi lo. Patut kita akui, saya sendiripun juga jarang sekali menengok yang namanya MCB….apalagi orang kampung tetangga ane yang ga paham tentang dunia persetruman….he..he..ini point penting juga, alangkah baiknya di ambah sekring setelah MCB utama, untuk antisipasi….apabila MCB gagal karena kerusakan ato karena udah berumur maka sekring akan mem back up agar tidak terjadi kegagalan proteksi yang mengakibatkan kerusakan peralatan di rumah atopun kebakaran yang diakibatkan short circuit

  3. PLN sendiri sebagai pemasang MCB di rumah – rumah bersama meternya juga ga pernah mengganti MCB walo umurnya udah puluhan tahun. Kalo ada laporan rusak baru diganti.

    Ini jawabannya betul juga kan? PLN aja ga pernah mengganti MCB yang terpasang dirumah – rumah kok walo umurnya uda berpuluh tahun…padahal secara analogi sederhana…alat yang terpasang cukup lama kan seharusnya ada penggantian untuk antisipasi kemungkinan – kemungkinan terburuk kan? Sapa yang bisa menjamin segitu banyak peralatan akan bekerja dengan normal semuanya setelah umurnya puluhan tahun? Ane ga paham juga berapa umur yang diijinkan beroperasinya alat listrik…yang jelas pasti ada batas umurnya kan? Ini PLN ga ada dana untuk mengganti MCB ato emang ga ada perencanaan penggantian MCB yang sudah berumur ane juga ga paham…untuk antisipasi hal tersebut rasanya ga ada salahnya kita pasang MCB setelah MCB utama dengan ampere yang sama ato dipasang sekring juga boleh.

Dari 5 kesimpulan asal – asalan ane diatas rasanya ane menemukan benang merah….yaitu MCB dan sekring berbeda metode dalam memutus sumberr utama dengan beban ketika terjadi short circuit dan ato overload….sekring mengandalkan patron lebur yang akan langsung putus ( note :ada juga sekring sistem tekan, tapi sementara ini ga kita bicarakan dulu ) ketika ada arus berlebih melewati dirinya sehingga harus langsung diganti, sedangkan MCB mengandalkan pemuaian bi metal dan menarik tuas untuk memutus sumber utama dengan beban, sehingga bisa di ON kan kembali setelah kondisi normal.

Dari karakteristik kedua alat proteksi arus lebih tersebut, ane pilih FUSE/ SEKRING sebagai pengaman yang lebih aman dan tingkat kegagalannya lebih kecil dibanding MCB…lho kok lebih aman gimana to masbro?ya iya tho…lha wong ketika arus melewati dirinya lebih besar dari kapasitasnya, sekring langsung akan putus kok…asal jangan di “ bendeng “ dengan kawat aja si sekring tersebut…he…he. Kalo MCB kan harus nunggu pemuaian dulu kan? Belum lagi narik tuas mekanis kan?kalo tuasnya somplak?kalo bi metalnya nge slek karena sesuatu hal?….pokoke menurut analisa asal – asalan ane sekring lebih safety….patut dipertimbangkan kalo instalasi rumah tangga dipasang sekring setelah MCB utama….untuk antisipasi back up aja lah….sapa tau MCB dirumah kita tidak bekerja dengan semestinya….kita ga mau kan rumah kita kebakaran karena short circuit listrik yang gagal diproteksi? Apa salahnya kita pasang sekring…..lha wong harganya murah jeeee…putus tingga beli ato stok kan juga bisa..he..he…alhamdulilah rumah ane udah ane pasangin sekring setelah MCB utama..he..he…

Jadi kemungkinan kebakaran rumah karena short circuit adalah karena kegagalan proteksi MCB karena hal yang disengaja ( MCB nya dioprek ) atao yang ga sengaja karena cacat produksi, rusak dalam proses distribusi, ato karena umur, atao juga karena terlalu sering trip sehingga bi metalnya lower ato ledeh ato nge slek……semoga ada koreksi kalo ada salah tulis ato salah analisa….maklum…analisa asal – asalan orang berpendidikan rendah..he..he.

TARIF LISTRIK

Beberapa hari yang lalu ane dimintain pertimbangan sama tetangga ane tentang KWH meter prabayar ato yang regular ( yang kuno, masih pake cakram berputar ). Kira – kira enakan mana mas pake yang prabayar ato regular? kebetulan ane pake yang prabayar ya ane jawab enak yang prabayar dong. Kenapa ane bilang enak yang prabayar? Soalnya ga perlu ngantri bayar listrik….itu dulu satu – satunya alasan ane migrasi ke prabayar…..maklum kalo rumah ane ndeso mbayar listrik harus ke kantor desa ato ke kota, ngantri lagi.he..he..he…

Well….kita bahas aja tentang tarif listrik reguler …berikutnya aja kita bahas yang prabayar…

Coba kita liat di peraturan disini Contohnya liat halaman 10….kolom biaya beban (Rp/kVA/bulan ) yang ada tanda bintangnya tuh a.k.a 1300 kVA keatas. Disana cukup jelas tertera kalo

*RM1 = 40(jam nyala) x daya tersambung(kVA) x biaya pemakaian

*RM2 = 40(jam nyala) x daya tersambung(kVA) x biaya pemakaian blok 1

Jam nyala = kWh perbulan dibagi kVA tersambung

blok 1 = 0 – 55 jam nyala = 980

blok 2 = diatas 55 jam nyala = 1380

( Ane ambil contoh itu yang tarif rumah tangga yang berlaku mulai 1 januari sampai 31 maret 2013)

Disana tertera jelas ada yang disebut RM ( rekening minimum) yang artinya apabila jumlah tagihan lebih kecil dari perhitungan rumus diatas maka dikenakan tarif rekening minimal.

Menurut pengertian saya begini : seumpama pemakaian kita 20 kWh, batas daya 1300 VA jadi biaya pemakaian per kWH adalah 833 rupiah….secara hitungan adalah 20 kWh x Rp 833 = Rp 16.660

tetapi kalo kita hitung secara rumus RM1( karena 1300 VA range nya masuk RM1) maka :

RM1 = 40(jam nyala) x daya tersambung(kVA) x biaya pemakaian

RM1 = 40 x 1,3 x 833 = 43.316 jadi menurut perhitungan adalah Rp 43.316

karena hitungan pemakaian lebih kecil dari perhitungan RM1, maka yang dipakai adalah RM1 ( betul ga ya kira kira hitungannya????? semoga ada yang mengoreksi kalo ada salah cara hitungnya…he…he )

Semoga tulisan ane bisa sedikit membuka pikiran pembaca semua yang belum pernah ato malas membaca tabel tarif dasar listrik.he..he…mengkin yang selama ini suudzon dengan PLN karena bayar listriknya kok mahal, padahal pemakaian sedikit ya semoga bisa memahami…..kan dengan tabel tersebut pembaca semua bisa menghitung sendiri berapa harus pemakaian listriknya bayar ….kalo ga sesuai antara perhitungan dengan tagihan ya pembaca semua bisa menanyakan ato bahkan komplain…sekarang jaman demokrasi, ga usah takut lah kalo memang kita bertanya dengan sopan dan jangan membawa demokrasi yang kebablasan aja…asal kita bertanya dengan sopan dan baik, pasti dijawab dengan baik…….asal jangan bertanya dengan marah – marah ya….ingat…orang – orang PLN juga manusia lo….bisa – bisa kita dilaporkan ke polisi dengan tuntutan perbuatan tidak menyenangkan apabila menyampaikan keluhan dengan marah – marah….he…he…he…he

PLN, Rugi dan subsidi???

Iseng-iseng browsing, nyasar di website nya PLN baca – baca kok nemu tulisan agak janggal yang judulnya SSC…..aku pikir SSB ato sekolah sepakbola ha..ha..masak PLN membuka sekolah sepak bola?????kurang kerjaan kali???. dan ternyata SSC itu singkatan dari shared service center. Aku males baca tulisannya satu persatu tapi ketika sampai paragraph yang paling bawah kok ada tulisan “Belum pernah sekali pun PLN mengurangi pegawai, bahkan sekedar terbersit di pikiran pun tak pernah”. Waladalah…kok dirutnya nulis begitu se…?? jangan – jangan di Internal PLN ada gonjang – ganjing isu PHK gitu? Ada apa? Apa karena PLN selalu rugi sehingga mau mem PHK karyawannya?

Sebagai pelanggan listrik yang rada – rada melek internet ane coba – coba browsing tentang masalah kerugian PLN ini..ternyata emang begitu adanya, PLN selalu rugi….menurut media – media PLN harus mendapatkan suntikan dana sebesar 65 trilliun pertahun dari negara untuk beroperasi…jadi intinya PLN itu rugi 65 trilliun pertahun dan kerugiannya itu ditutupi oleh pemerintah begitu????

Ato mungkin karena pemerintah jengkel ke PLN karena rugi terus sehingga pemerintah memaksa PLN melakukan efisiensi dan salah satunya pengurangan karyawannya?embohlah….aku ga mudeng?he..he

itu cuma perkiraan ngawur ane aja….he..he…tapi coba ntar tanya tetangga yang kerja di PLN tentang isu tersebut dah..

Kita sebenarnya sebagai rakyat jelata ga perduli mau ada PHK ato ga di internal PLN, yang penting pelayanan listrik tetap terjaga kualitasnya…e..e…e…ii….i…iiii…tttt tapi kalo ada PHK di PLN apakah pelayanannya akan lebih baik? Lha wong dengan kondisi sekarang aja pelayanan PLN boleh kita bilang acak adul….gimana kalo karyawannya berkurang? Apa ga tambah berantakan???? rakyat lagi yang sengsara….susah emang jadi rakyat jelata…he…he

saran ane sih fokuskan pelayanan yang terbaik aja kepada konsumen, jangan pikirkan kerugian – kerugian yang diakibatkan oleh tidak sesuainya harga jual dan biaya produksi listrik, PLN kan berlindung dibawah UUD 45 pasal 33 karena termasuk menguasai hajat hidup orang banyak, jadi jangan kawatir….tugas PLN hanya melayani rakyat, PLN harus tetap beroperasi apapun yang terjadi, kalo kurang modal minta subsidi  aja ke pemerintah berapapun jumlahnya….asal ga dikorupsi, rakyat pasti rela hasil pajaknya dipake oleh PLN untuk tambahan modal operasional dan pembangunan pembangkit serta jaringan listrik….syukur – syukur suatu saat PLN bisa membangun pembangkit listrik dengan biaya operasional murah, sehingga bisa mendapatkan untung…..amiii…iii…nnnn….

OPINI PRIBADI TENTANG PEMBANGKIT LISTRIK SWASTA

Menyambung artikel “TETANGGAKU ENGINEER….” kemarin..ternyata aku emang kuatrok..ndeso…ga ngerti perkembangan jaman…he…he..setelah ngobrol panjang lebar sama tetangga baruku…akhirnya aku paham kalo ternyata yang bergerak di bidang pembangkit listrik bukan cuma PLN saja…sekarang pihak swasta diberikan kesempatan seluas – luasnya untuk membangun pembangkit listrik….tetapi semua dikoordinasikan dengan pihak PLN ato istilahnya penyalurannya tetep PLN yang ngurusi…jadi intinya perusahaan swasta tersebut hanya membangkitkan listrik dan listriknya dijual ke PLN….oooo…ooo jadi begitu to…aku pikir penyalurannya juga perusahaan pembangkit listrik tersebut yang sekaligus jualan listriknya….intinya PLN tetep monopoli dagang listriknya……

well…sekarang yang mau ane bahas masalah sosialnya aja deh tentang adanya pihak swasta yang membangkitkan listrik trus PLN yang menyalurkan ini…..ini menurut opini pribadi saja tanpa ada tendensi apa-apa ataupun kepentingan apapun dibalik artikel saya…

Kita pandang dari UUD 45 aja…disana diamanahkan di pasal 33 ayat 2 ( kalo belum ada amandemen lagi ….he..he…)bahwa Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Dari sana saja sudah tertulis begitu….tapi kenyataannya listrik yang merupakan produksi penting dan menguasai hajat hidup orang banyak sekarang sudah diproduksi oleh swasta walo secara penyalurannya melalui PLN ( negara)…terus iki piye critane kok sampe melanggar UUD 45? yang salah siapa nih? Mungkin yang salah ya saya sendiri karena ga paham tentang hukum dan undang – undang he…he…he..mungkin menurut pemerintah dan disetujui anggota dewan itu sah-sah saja dengan suatu alasan yang sangat mulia yaitu mempercepat penyebaran listrik sampai ke pelosok sehingga listrik bisa dinikmati oleh seluruh rakyat indonesia……kalo negara sendirian yang membangun pembangkit listrik mungkin 25 tahun juga ga bakal kelar karena keterbatasan APBN he…he…akhirnya dibuatlah peraturan yang memperbolehkan swasta investasi dibidang pembangkitan asalkan penyalurannya tetap diserahkan kepada PLN sebagai perusahaan yang ditunjuk oleh negara untuk menyalurkan listrik….itu sih cuma analisa saya sebagai tukang service genset kebenarannya silahkan tanya sendiri ke DPR dan pejabat pembuat aturannya…he..he…

Eee…ee…iiiit…tapi tunggu dulu….ada yang mengganjal dari ketidaksesuaian antara UUD 45 pasal 33 ayat 2 dengan prakteknya dilapangan, disatu sisi ane sebagai rakyat jelata sangat setuju apabila listrik bisa dengan cepat menjangkau seluruh pelosok Indonesia sehingga semua rakyat Indonesia dapat menikmati listrik tanpa terkecuali…..tetapi kalo yang investasi swasta dibidang pembangkitannya kan menyalahi UUD 45 pasal 33 ayat 2 dong? trus kayak makan buah simalakama dong….kalo swasta ga masuk, maka untuk mencapai pemerataan listrik akan sangat sulit dan memakan waktu yang lama donk…tapin kalo swasta masuk melanggar UUD 45 donk….trus iki piye? Mumet aku….ga ngerti…

Menurut opini pribadi lagi nih….seumpama pihak swasta tersebut tiba – tiba kolaps atau terkena masalah keuangan atau perselisihan hukum atau apalah yang intinya mereka ga bisa beroperasi bagaimana? Apa ga terjadi pemadaman bergilir karena pembangkit milik PLN ( Negara ) ga bakal mampu mem back up karena kekurangan daya? Padahal kita tahu sendiri…untuk membangun suatu pembangkit itu dibutuhkan waktu yang lama untuk perakitannya dan termasuk ijin – ijin nya? Kalo pihak swasta “ mogok “ produksi listrik apa ga kalang kabut stabilitas nasional Indonesia? Gimana gak kalang kabut….lha wong listrik adalah merupakan kebutuhan pokok manusia modern…he…he…bisa – bisa investor lari dari Indonesia donk…wah kacau…mumet aku…ga paham…biar para pimpinan kita yang mikirin…kita sebagai rakyat cukup jadi warga yang baik aja taat mbayar pajak dan mbayar listrik…he..he…

TETANGGA BARUKU ENGINEER PEMBANGKIT LISTRIK LO…..

Engineer

Engineer

Suatu hari ada pendatang baru sekeluarga di kampungku dan menyewa sebuah rumah….namanya wong ndeso ya kita coba perkenalan lah sama. Mereka keliatannya keluarga muda anak baru 1 berumur 2 tahunan lah kira – kira. Saya tanya asalnya dari jakarta katanya…kemudian ngobrol ngalor ngidul dan aku menanyakan pekerjaannya apa disini? Ternyata dia seorang engineer sebuah pembangkit listrik yang lagi ada proyek pembangunan pembangkit listrik di daerah ku…wuih…kweren…sama dong kerjaaan kita ( disamakan aja lah walo kerjaanku hanya tukang service disel genset…tapi kan juga pembangkit listrik juga to….ha..ha..)…tapi yakinlah bahwa bapak Andre ( sebut aja namanya tetangga baruku ini he..he..) ini jauh lebih keren kerjaannya dibanding aku…ha..ha…ya jelas dong dia seorang engineer dan pastinya seorang sarjana teknik beda dengan aku yang hanya STM ha..ha..tukang service lagi genset murahan…..

Selanjutnya aku bilang…pasti bapak bekerja di PLN ya?…yang punya pembangkit listrik besar kan cuma PLN…..aku berpikiran pasti dia bilang KOK TAHU?(ovj…mode: ON)…ndilalah dia bilang bukan…aku bukan pegawai PLN mas……Lho…lho…engko sik…kok bisa?engineer pembangkit listrik kok bukan pegawai PLN?wah..wah..mas Andre ini gojekan…ngajak guyon to…..

Singkat cerita ….ternyata dia adalah pegawai suatu perusahaan persewaan pembangkit listrik..ato istilahnya perusahaan yang bergerak dibidang pembangkitan listrik swasta lah…..emboh aku juga ga paham…perusahaan apa itu…tapi yang jelas setahuku listrik ya PLN….lha kok ini ada perusahaan swasta ngurusi pembangkit listrik to….apa emang sekarang ada perusahaan listrik pesaingnya PLN? Coba ntar aku googling dulu…ada nggak perusahaan listrik pesaingnya PLN? Kalo ada ya syukur lah…kan usaha listrik bukan lagi monopoli…kalo kita ga puas sama pelayanan PLN ya kita tinggal beralih saja ke perusahaan penyedia listrik yang lain…ya…mirip-miriplah sama bisnis telekomunikasi…kan banyak operator disana yang bersaing…jadi tinggal kita pilih aja sesuai keinginan kita…..

Ok…cukup sekian cerita perkenalanku dengan seorang Engineer pembangkit listrik…( kapan aku bisa jadi engineer he..he…ngimpi….. )…besok ngobrol – ngobrol lagi ah…sapa tau ketularan pinter…

Nama dan tempat kejadian sengaja ane samarkan…demi privasi…tapi ini kisah nyata lo tentang engineer listriknya…

LISTRIK BENAR – BENAR MENJADI KEBUTUHAN POKOK MANUSIA MODERN

Lampu listrik

Lampu listrik

Permintaan Listrik Tembus Angka 10,17 Persen

(Jakarta, 7/2) Direktur Perencanaan dan Manajemen Resiko PLN, Mutaqi Syamsuddin, memaparkan tentang Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2012 s.d 2031 pada acara Coffee Morning di Kantor Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, Kamis (7/2). Pertumbuhan permintaan listrik di Indonesia menembus angka 10.17% pada tahun 2012. Angka pertumbuhan ini menjadi capaian tertinggi sejak Indonesia mengalami krisis ekonomi di tahun 1998. RUKN yang akan ditetapkan ini menjadi dasar bagi Pemerintah Daerah dalam penyusunan Rencana Umum Ketenagalistrikan Daerah (RUKD) dan bagi pelaku usaha penyediaan tenaga listrik dalam menyusun Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

Menyadur artikel di website PLN diatas, kayaknya ada korelasinya dengan artikel saya sebelumnya disini. kayaknya semakin hari semakin bertambah jumlah pelanggan PLN, artinya listrik benar – benar menjadi kebutuhan pokok manusia modern.  Bayangkan, seandainya dulu ga ditemukan listrik oleh michel farady dan penemu lampu listrik thomas alfa edison, nikola tesla dengan motor listriknya ga mungkin kehidupan kita semudah sekarang ini….lha iyo to…sekarang mau terang tinggal pencet saklar lampu udah nyala, mau nyuci tinggal masukin ke mesin cuci uda ga perlu ngucek, mau air es ga perlu ke kutub tinggal buka kulkas aja, mau masak nasi tinggal masukin beras ke rice cooker….nyaman to….semua uda serba listrik sekarang. kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada penemu – penemu diatas….termasuk ane juga berterimakasih kepada mereka, selain memanfaatkan hasil temuan mereka ane juga dapat uang dari listrik…walo cuma tukang instalasi listrik sama tukang service genset.he..he…( maklum cuma lulusan STM…bisanya cuma itu )

well, masuk lagi tentang listrik, untuk manusia modern listrik sudah merupakan kebutuhan yang tidak terpisahkan dengan kehidupan sehari – hari. di tilsan saya yang kemarin disini saya hanya mengambil contoh tetangga disekitar rumah aja….tapi sekarang saya langsung buka website PLN dan mendapatkan data yang cukup mencengangkan. Katanya tanpa data dibilang hoax..he…he. kenapa mencengangkan? soalnya data  PLN 2012 http://www.pln.co.id/?p=6292 disebutkan bahwa pelanggan PLN adalah 47,5 juta pelanggan trus ditambah lagi artikel dari PLN juga diatas ( yang tulisannya miring ) dikatakan bahwa Permintaan Listrik Tembus Angka 10,17 Persen…opo ga gendeng iku?he..he…sampean itung sendiri lah jumlah pelanggan PLN kalo pertumbuhannya segitu…ane ga paham itung – itungannya secara statistik soalnya. Bisa kita ambil kesimpulan..pertumbuhan ekonomi pasti akan dibarengi dengan pertumbuhan kebutuhan listrik…sepertinya itu sudah hukum alam deh…he..he…kenapa bisa saya bilang begitu? Begini ilustrasinya mas….ketika pendapatan kita perbulan 1 juta kita cuma bisa beli kipas angin dan bayar listrik paling banyak 20 ribu…h..he ( pengalaman pribadi ). kemudian gaji naek ato usaha berkembang yang artinya uang kita semakin banyak akhirnya ditambah sama rice cooker dan kulkas …..lha ini akibatnya pengeluaran bayar rekening listrik jadi bengkak kan? ini analisa sederhana berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman tetangga sekitar, ga ada data secara statistik ato berdasarkan data. tapi analisa sederhana tanpa data tersebut kayaknya 90 % bener deh…ha..ha. kalo ga percaya buktikan aja sendiri….monggo dikunyah – kunyah deh, dipikirkan bener apa gak tulisan saya yang belepotan ini?