Kenapa pembangkit listrik hanya di daerah tertentu? trus rumahku dapat strumnya dari mana?

            Beberapa hari ini aku sibuk dengan kemalasan.he..he. jadi malas ngapa – ngapain termasuk nulis. Tapi sekarang udah ada semangat lagi dan ada sedikit yang perlu aku tulis. Mungkin bagi para professional di bidang perlistrikan, tulisan saya hanya dianggap celotehan bayi. Tapi bagiku ini adalah teory praktis dan memudahkan logika bagi orang yang berpendidikan rendah seperti aku ini. He..he

            Well, sekarang aku ingin menulis tentang kenapa sistim pembangkit diinterkoneksikan? kenapa hanya didaerah daerah tertentu saja yang ada pembangkit listriknya? Daerah yang ga ada pembangkitnya dapat listrik dari mana? Kenapa listrik ga pernah mati sepanjang hari bahkan sepanjang bulan dan sepanjang tahun, apa mesinnya ga pernah mati? Bagaimana listrik sampai rumah kita?Yang disebut interkoneksi system pembangkit adalah menyambungkan antarpembangkit satu dengan pembangkit yang lain. Contohnya ya interkoneksi antara pembangkit listrik di paiton dengan pembangkit listrik di suralaya. Wuih jauh juga ya dari ujung timur pulau jawa ke ujung barat pulau jawa.he..he.

Kenapa pembangkit yang satu dengan yang lain harus diinterkoneksikan sih?, kenapa ga dioperasikan sendiri – sendiri biar ga boros kabel karena harus menggelar kabel yang panjang. Yuk kita bahas satu persatu pertanyaan – pertanyaan yang sering muncul dibenak kita apalagi orang awam tentang setrum. Untuk lebih mudahnya memahami yah…kita coba bikin perumpamaan dulu agar mudah seperti begini :

1.            Kalo setiap desa / wilayah dibuatkan satu pembangkit biar ga ada interkoneksi

 

Apabila system ini dipake, pastinya ga ada pemborosan kabel ya?. Memang betul, akan tetapi kita perlu tahu apa kelemahan system ini dibandingkan keuntungannya yang hemat kabel itu. Sekarang kita kupas permasalahan – permasalahan apabila pembangkit dibangun tanpa interkoneksi.

1. Apa mungkin setiap desa atau wilayah punya lokasi untuk menempatkan pembangkitnya?…….Jawabannya :  tidak mungkin, contohnya kodyasurabaya pasti ga punya lokasi untuk menempatkan PLTU atau PLTG karena membutuhkan lokasi yang sangat luas, kalopun memungkinkan hanya PLTD. Tapi ingat, biaya opersional PLTD itu sangat mahal lo. Kalo ga salah informasi sampai Rp 2500 – 3000 per KWH. Mau bayar 2500 – 3000 rupiah per KWH? Emang mau Negara mensubsidi semua kebutuhan listrik rakyatnya agar terbeli oleh rakyat? Emang persediaan  solarIndonesia cukup untuk berapa tahun? Coba googling tentang persediaan minyak dunia deh.Ya kalo kita pandang dari sisi lokasi sudah tidak mungkin membangun pembangkit di setiap desa atau wilayah.setujukan?

2. Apa mungkin setiap desa atau wilayah punya akses atau jalan untuk mengirimkan bahan bakarnya pembangkit?…….jawabannya : ga mungkin jugakan? Alasnnya pasti sama persis dengan yang nomor satu diatas, tidak semua desa atau wilayah punya akses jalankan untuk mengangkut batubara, gas, atau solar. Kalopun dipaksakan akan memakan biaya yang sangat besar.setujukan ?

3. Apa mungkin setiap orang mau daerahnya terkena polusi suara atau asap dari pabrik setrum? ……Aku yakin hampir 50 % lebih ga bakalan setuju kampong yang tentram dan damai serta bebas polusi tiba – tiba dibangun pabrik setrum yang penuh polusi. Mulai polusi udara, suara maupun polusi lalu lintas eh polisi he..he. Apalagi daerah yang sudah berpolusi karena pabrik dan transportasi macamJakarta pusat dan sekitarnya, pasti ga bakalan setuju dengan adanya pabrik setrum ditengah – tengah mereka. Jangankan pabrik setrum yang berpolusi, tiang SUTET  dan SUTT  yang ga ada polusinya aja harus dengan nego yang sangat a lot kok untuk pembangunannya . Sekali lagi hasilnya tidak mungkin setiap orang mau terkena polusi, padahal pabrik setrum pasti berpolusi ( kecuali PLTA dan PLTS )

4. Pastinya polusi akan tersebar di seluruh daerah yang ada pembangkitnya, padahal setiap wilayah mempunyai pembangkit lo? Ini seandainya lo ya, seandainya setiap orang menghendaki di setiap desa atau wilayahnya ada pembangkit listriknya, dan dibangunlah pabrik setrum disetiap daerah. Bayangkan apa yang terjadi, pasti polusi akan tersebar disetiap daerah dong? ga ada daerah yang yang bebas polusi dong? Bisa bayangkan sendiri lah…..

5. Apabila  pembangkit di daerah A rusak, mati lampu dong daerah A tersebut?

Ini seandainya lo ya, seandainya setiap orang menghendaki di setiap desa atau wilayahnya ada pembangkit listriknya, dan dibangunlah pabrik setrum disetiap daerah tanpa interkoneksi. Apabila pembangkit di daerah A rusak atau ada pemeliharaan, pastinya daerah A tersebut akan gelap gulita dong. Emang mau mati lampu berhari – hari ? satu jam mati lampu aja kita udah sumpah – sumpah PLN dengan kata – kata bijak kok, apalagi sampe berhari – hari

  1. Semua pembangkit yang memungkinkan interkoneksi, diinterkoneksikan.

 

Sekarang  kebalikannya dari pembahasan diatas  ( setiap desa / wilayah dibuatkan satu pembangkit biar ga ada interkoneksi ). Pabrik setrum ditempatkan dibeberapa wilayah yang memenuhi syarat sebagai tempat membangun pembangkit listrik. Baik syarat teknis maupun non teknisnya lo ya. Contohnya pembangkit yang ada di beberapa daerah seperti Paiton, Suralaya, Gresik dan di Balidi interkoneksikan melalui SUTET maupun kabel bawah laut. Kerugian yang timbul cuma ada satu, yaitu butuh kabel yang sangat panjang untuk interkoneksi ini kalo dibandingkan dengan system pembangkit terpisah atau membangun pembangkit di setiap wilayah ataupun desa. Tetapi akan sangat banyak keuntungannya, mari kita bahas satu persatu keuntungan interkoneksi ini. O iya bro – bro pembaca coba kunjungi http://www.pln.co.id/riau/?p=819 untuk membuka wawasan dan http://dunia-listrik.blogspot.com untuk menambah teory ilmu tentang listrik, ya kebetulan saya sering jalan – jalan ke blog tersebut.he..he. Balik lagi ke pembahasan kita tentang keuntungan system interkoneksi antar pembangkit

1. Apabila salah satu pembangkit gangguan atau sedang pemeliharaan , yang intinya ga bisa beroperasi bagaimana? Hal ini akan bisa di back up oleh pembangkit lain melalui jalur interkoneksi. Seandainya ada poling “ siapa yang mau listrik mati 1 hari saja karena alasan pemeliharaan mesin pembangkit listrik ataupun gangguan “ mungkin 99,9999 % jawabanya tidak setuju kaan?…..1 jam mati lampu aja udah pada nyumpahin PLN, apalagi 1 hari, bisa – bisa demo besar – besaran.he..he. Dengan alasan itulah dibuatlah system interkoneksi

2. Lebih mudah pengaturan jadwal pemeliharaan mesin pembangkit tanpa mengganggu pelayanan kepada pelanggan. Pastinya mesin yang beroperasi terus – menerus dan kontinyu butuh juga berhenti dong….bayangkan aja motor ato mobil kita kalo berjalan terus bagaimana? Perlu istirahatkan? Perlu perawatankan? Perlu ganti olikan? Sama juga mesin pembangkit juga begitu apapun jenis mesin dan bentuknya. Padahal disisi lain pelanggan ga ada yang mau tau alasan penyedia setrum, yang penting listrik terus menyala tiada jeda 1 detik pun. Maka dari itu, dibuatlah system interkoneksi ini, Apabila 1 mesin butuh istirahat untuk perawatan atau sekedar pengecekan mesin maka bisa di supply dari system pembangkit yang lain melalui interkoneksi.

3. Pembangunan pabrik setrum hanya didaerah – daerah tertentu, tidak harus di setiap desa ataupun  wilayah. Untuk membangun pembangkit listrik itu butuh riset yang panjang. Termasuk riset tempat karena tidak sembarang tempat bisa ditempati oleh pembangkit listrik. Misalnya, apakah transportasi untuk mengangkut bahan bakar sudah tersedia, apakah masyaraskat disekitar pembangkit menyetujui, apakah ambang batas kebisingan di perkampungan terdekat dengan pembangkit masih memenuhi syarat. Ya ga bisa satu persatu bisa saya sebutkan karena saya bukan ahli lingkungan hidup, Cuma kulit – kulitnya aja yang saya tahu. Untuk gampangnya gini aja, ga mungkinkanSurabaya yang sepadat itu kita bangun pabrik setrum jenis PLTU? Mau bangun jenis disel ( PLTD ) biaya operasi mahal, PLTS juga ga mungkin sepanjang tahun ada panas dan harganya cukup mahal, PLTA juga ga mungkin. Solusinya pembangkit ditempatkan didaerah Paiton yang melalui riset yang cukup panjang cocok untuk PLTU dan daerah Karang kates untuk PLTA

4. Penghematan ongkos pengiriman bahan bakar. Udah jelaskan? Karena setrum dikirim melalui kabel, jadinya bahan bakar untuk pembangkit hanya dikirim ke beberapa tempat yang ada pembangkitnya aja, ga perlu ke setiap desa atau wilayah ngirim bahan bakarnya.

5. Polusi tidak menyebar disemua daerah . sudah jelas jugakan ga perlu panjang lebar dijelaskan masalah ini

Sekali lagi pesan dari kang sapto, kalo ada salah di tulisan ato salah teory mohon untuk diinfokan, maklum orang berpendidikan rendah he…he.. segera di tulis di koment juga boleh agar ga menyesatkan. Memang cukup segini aja ilmu saya, tapi kalo ada manfaatnya bagi orang lain semoga jadi pahala bagiku. Mungkin lain kali saya akan tulis tentang pola pengoperasian sistem pembangkit yang efisien dan handal. Gali – gali ilmu dari para profesor dulu ah….monggo diwoco

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s